Sabtu, 08 Juni 2013

Wisata Baturaden



1.     Wisata Baturaden

Lokawisata Baturaden ini berada di lereng Gunung Slamet pada ketinggian 640 m diatas permukaan laut.  Baturaden  hanya berjarak 14 Km  arah utara Purwokerto, memiliki suhu udara antara 18 – 25ᴼ celcius.  Disini wisatawan dapat menikmati panorama Gunung Slamet, atraksi terjun bebas anak-anak Baturaden di air terjun Gumiwang dan wisatawan akan kerasan berlama-lama  disini karena lokawisata Baturaden menyediakan berbagai fasilitas seperti : kolam luncur di alam yang indah, rekreasi taman air dengan sepeda airnya dialam pegunungan yang sejuk dan nyaman membawa kesan tersendiri dan romantic bagi wisatawan , kereta mini, kolam renang air dingin yang diairi dari mata air Gunung Slamet, taman lalu lintas dengan fasilitas mobil genjot, sumber air panas Pancuran Tujuh yang mengandung belerang.  Telaga sunyi dan kios-kios bunga yang menyediakan beraneka ragam jenis bunga dan tanaman bonsai.

Ø  Kisah Nama Baturaden
Konon kabarnya di Negara Rum bertahta  seorang pangerang bernama Maulana Magribi yang memeluk Agama Islam. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya selaku seorang muslim, terlihatlah oleh beliau diufuk Timur cahaya terang menjulang tinggi diangkasa.  Terdorong oleh perasaan ingin mengetahui tempat dan makna cahaya terang itu, timbullah niat dan itikad yang kuat didalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud. Seorang sahabat bernama Haji Datuk dipanggilnya dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan armada dengan segala perlengkapannya.  Setelah segala sesuatunya disiapkan, berangkatlah si pangerang bersama-sama sahabatnya itu dengan 298 orang pengikutnya mengarungi samudra menempuh badai dan gelombang menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar selama 40 malam.  Alkisah samapailah mereka di Ujung Timur sebuah pulau yang bernama Pulau Jawa.  Adapun tempat dimana mereka membuang sauh dewasa ini terkenal dengan nama Gresik.

Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh dengan kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya, belumlah mereka mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya.  Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa, semangat mereka kunjung padam bahkan semangat mereka semakin membara untuk melanjutkan niatnya itu.  Pada suatu waktu terlihatlah kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah Barat dan mereka mengambil keputusan  kembali kearah Barat dengan menempuh jalan dilaut Jawa dan akhirnya mereka sampai ditengah pualau Jawa dipantai Pemalang, dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah.  Dari situlah armadanya diperintahkan kembali ke negerinya, sedangkan Maulana Magribi dan Haji Datuk untuk sementara bermukim ditempat itu. Dari Pemalang, kedua Muslim tersebut menuju kearah kearah Selatan menyusuri hutan belantara tiada mengenal bahaya yang dihadapi, karena tertarik oleh kekuatan gaib dari sinar cahaya terang yang sekarang terlihat dari Timur Laut.

Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka mereka berhentilah sejenak untuk melepas lelah sambil termenung merasakan kisah perjalanan serta kewajiban yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebar luaskan Agama Islam atau Firman Tuhan.  Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubari mereka (kalbunya) diberi nama PADURAKSA (bertengkar di dalam kalbu atau rasa).  Dari tempat itu mereka melanjutkan perjalanannya keselatan lagi dan sampailah mereka dihutan belukar  dan mereka beristirahat  ditonggak randu yang telah tumbang, dan sekarang dikanal dengan RANDUDONGKAL. Dari tempat peristirahat itu cahaya terang masih kelihatan ada di Timur Laut, dan Alim Ulama itu meneruskan perjalanan menuju arah cahaya tersebut.  Melewati lereng-lereng gunung dan lembah-lembah dan sebelum sampai ketempat yang menjadi tujuan mereka berhenti sejenak di dekat sendang (kolam) untuk melakukan ibadah (sholat) sesudahnya, tempat tersebut diberi nama BELIK.
Setelah melakukan sholat, maka perantauan diterukan kearah Timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan dan disitu mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena sekarang sinar terang itu terlihat ada dipuncak gunung. Tempat dimana mereka beristirahat itu diberi nama WATUKUMPUL. Karena tekadnya yang membaja, bagaimanapun sulit dan bahayanya, pendakian itu dilakukan juga sehingga akhirnya sampailah mereka ditempat yang dituju.

Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi keantariksa.  Perlahan-lahan Syech Maulana Magribi dan temannya Haji Datuk, menuju mendekati tempat pertapa tersebut sambil mengucap salam “ Assalamualaikum”, tetapi tidak dijawab oleh pertapa tersebut meskipun berulang kali diucapkan.  Setelah salamnya tidak mendapat jawaban, maka Haji Datuk berkata kepada Syech Maulana Magribi “ kiranya pertapa itu adalah seorang Budha” mendengar perkataan itu si pertapa lalu menjawab “sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang sakti”, mendengar kata-kata sakti maka Syech Maulana Magribi meminta kepada pemeluk Agama Budha tadi, bahwa beliau ingin melihat/menyaksikan kesaktiannya.

Dan untuk membuktikan bahwa dia adalah betul-betul orang yang sakti, maka diambilah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang diangkasa.  Syech Maulana Magribi tergolong orang yang mempunyai kesaktian juga dan didorong oleh rasa ingin mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan baju kaosnya dan dilemparkan keatas.  Ternyata baju kaos tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu. Dalam hatinya si pertapa mengakui bahwa kesaktiannya itu dapat dikalahkan, tetapi ia belum mau menyerah kalah, dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit.  Melihat keadaan tersebut Syech Maulana Magribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya.

Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukan hal tersebut, maka Syech Maulana Magribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai  tanpa ada yang jatuh satupun. Walaupun kesaktian pertapa tadi dapat dikalahkan lagi, masih merasa belum puas dan dengan perasaan was-was masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulang tinggi.  Seraya menyaksikan keajaiban itu, Syech Maulana Magribi bersabda “ambilah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah dengan tiada ada yang berjatuhan”.  Ternyata tidak ada kesanggupan dari si pertapa beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir dipukulnya dengan jarinya hingga periuk itu pecah dan airnya memencar ke segala penjuru.

Akhirnya sipertapa yang mengaku bernama JAMBU KARANG (berasal dari pohon sandarannya, sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan) menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syech Maulana Magribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selanjutnya dikubur di PENUNGKULAN (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Setelah itu dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yang dibawa oleh Haji Datuk dari tanah suci atas perintah Syech Maulana Magribi dengan mempergunakan tempat dari bamboo (bumbung).  Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetapi karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah.

Air sisa tadi berhamburan dan ditempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yang tidak mengenal kering dimusim kemarau. Setelah pertapa diwisuda menjadi pemeluk Agama Islm, untuk seterusnya menggunakan nama Syech Jambu Karang. Serenta Syech Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at : jawa : bengat), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at ya diatas bukit KRATON.  Sesaat setelah Syech Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin rebut, mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton, tempat dimana Syech Maulana Magribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syech Jambu Karang menjadi seorang Muslim. Menurut hikayatnya Syech Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama RUBIAH BHAKTI, yang dipersunting oleh Syech Maulana Magribi, setelah Syech Jambu Karang menjadi seorang Muslim, dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistri putri  Syech Jambu Karang, Syech Maulana Magribi berganti nama “ATAS ANGIN “.  Dari perkawinannya menurunkan 5 orang putera/puteri, yaitu :
1.       MAKDUM KUSEN (Makam di Rajawana)
2.       MAKDUM MEDEM (Makam di Cirebon)
3.       MAKDUM UMAR (Makam di Karimun Jawa)
4.       MAKDUM (yang menghilang/murca)
5.       MAKDUM SEKAR (Makam di Gunung Jembangan)
Adapun syech Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan disitu pula dan tempat pemakamannya disebut Gunung MUNGGUL (puncak yang tertinggi didaerah itu).
Syech Maulana Magribi yang terkenal dengan Mbah ATAS ANGIN oleh penduduk Baturaden dan sekitarnya, selama 45 tahun bermukim disuatu tempat/pedukuhan yang dinamakan BANJAR CAHYANA (mungkin tempat permukiman tersebut didiami setelah menemukannya cahayanya). Di BANJAR CAHYANA Mbah ATAS ANGIN menderita penyakit gatal-gatal yang tidak dapat disembuhkan. Dan pada suatu waktu ia melakukan ibadahnya dan mendapat ilham supaya pergi ke Gunung GORA dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk mengobati penyakitnya. Sesampainya ditempat yang dituju, dilihat oleh Mbah ATAS ANGIN ada air panas yang memancar, yang sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama PANCURAN PITU. Terjunlah Syech Maulana Magribi kedalam air dan mandi disitu selama beberapa hari, dan akhirnya beliau terhindar dari penyakitnya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk, sahabatnya menunggu ia berkata : saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari penyakit dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan (SLAMET). Maka oleh karenanya gunung GORA ini saya beri (ganti) nama “GUNUNG SLAMET”. Selama Syech Maulana Magribi berobat di Pancuran Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan kepadanya diberi julukan RUSULADI yang artinya BATUR yang BAIK (ADI) dan konon kabarnya tempat itu oleh penduduk sekitarnya hingga kini disebut BATURRADEN (batur yang adi, teman yang baik).
Dari Baturraden mereka berdua kembali ke Banjar Cahyana dan menugaskan kepada anak-anaknya untuk meneruskan karyanya atas nama ALLAH menyebarkan agama islam, dan setelah itu mereka pulang ke negeri asalnya dengan meninggalkan petilasan dilereng Gunung Slamet, yang hingga kini dianggap keramat oleh orang-orang sekitar Baturraden, daerah Purbalingga dan Banjarnegara dan tidak ketinggalan pula daerah Pekalongan dengan suatu bukti bahwa orang-orang dari daerah tersebut pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon berziarah ketempat tersebut dan yang lebih unik lagi ialah setiap pengantin dari daerah Utara dengan masih berpakaian pengantin lengkap melangsungkan pesiarnya di Baturraden.

2.       AIR TERJUN GUMAWANG
Air terjun ini terletak di dalam lokawisata Baturraden. Memiliki ketinggian sekitar 25 m dan airnya sangat jernih karena aliran airnya langsung jatuh dari mata air Gunung Slamet dan membentuk telaga kecil dibawahnya. Banyak anak-anak disekitar Baturraden melakukan atraksi terjun/lompat dari puncak air terjun dan menyelam untuk mengambil uang logam yang dilempar kedalam air oleh pengunjung atau uang setelah melakukan atraksi terjun.

3.       SUMBER AIR PANAS PANCURAN TUJUH
Lokasi obyek wisata ini terletak ditengah hutan dammar dan pinus yang berjarak sekitar 2,5 Km arah Barat lokawisata Baturraden yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan dengan jarak tempuh sekitar 5 Km dari pintu gerbang Wana Wisata.
Sesuai dengan namanya disebut pancuran tujuh atau dalam bahasa Jawa disebut pancuran pitu karena mempunyai tujuh buah pancuran yang alami mengalir langsung dari Gunung Slamet. Sumber air panas ini mengandung belerang bersuhu antara 70– 90 celcius serta mengandung beberapa unsur mineral. Karena kandungan belerangnya, maka sangat efektif untuk therapy pengobatan sakit tulang/rematik dan berbagai macam penyakit kulit.

4.       PEMANDIAN AIR MINERAL KALIBACIN
Kolam renang Kalibacin dialiri dari sumber air yang mengandung belerang yang dapat mengobati berbagai macam penyakit kulit dan rheumatic. Terletak di Kecamatan Rawalo atau 30 menit arah Selatan Purwokerto.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar