1. Wisata Baturaden
Lokawisata
Baturaden ini berada di lereng Gunung Slamet pada ketinggian 640 m diatas
permukaan laut. Baturaden hanya berjarak 14 Km arah utara Purwokerto, memiliki suhu udara
antara 18ᴼ
– 25ᴼ
celcius. Disini wisatawan dapat
menikmati panorama Gunung Slamet, atraksi terjun bebas anak-anak Baturaden di
air terjun Gumiwang dan wisatawan akan kerasan berlama-lama disini karena lokawisata Baturaden
menyediakan berbagai fasilitas seperti : kolam luncur di alam yang indah,
rekreasi taman air dengan sepeda airnya dialam pegunungan yang sejuk dan nyaman
membawa kesan tersendiri dan romantic bagi wisatawan , kereta mini, kolam
renang air dingin yang diairi dari mata air Gunung Slamet, taman lalu lintas
dengan fasilitas mobil genjot, sumber air panas Pancuran Tujuh yang mengandung
belerang. Telaga sunyi dan kios-kios
bunga yang menyediakan beraneka ragam jenis bunga dan tanaman bonsai.
Ø
Kisah
Nama Baturaden
Konon kabarnya di Negara Rum bertahta seorang pangerang bernama Maulana Magribi yang memeluk Agama
Islam. Pada waktu fajar menyingsing, setelah beliau melakukan kewajibannya
selaku seorang muslim, terlihatlah oleh beliau diufuk Timur cahaya terang
menjulang tinggi diangkasa. Terdorong
oleh perasaan ingin mengetahui tempat dan makna cahaya terang itu, timbullah
niat dan itikad yang kuat didalam sanubarinya dan mencari tempat yang dimaksud.
Seorang sahabat bernama Haji Datuk
dipanggilnya dan diperintahkan supaya para hulubalang dan balatentaranya menyiapkan
armada dengan segala perlengkapannya.
Setelah segala sesuatunya disiapkan, berangkatlah si pangerang
bersama-sama sahabatnya itu dengan 298 orang pengikutnya mengarungi samudra
menempuh badai dan gelombang menuju kearah terlihatnya cahaya itu memancar
selama 40 malam. Alkisah samapailah
mereka di Ujung Timur sebuah pulau yang bernama Pulau Jawa. Adapun tempat dimana mereka membuang sauh
dewasa ini terkenal dengan nama Gresik.
Meskipun mereka telah lama menempuh perjalanan penuh
dengan kesulitan dan penderitaan serta menghadapi bermacam-macam marabahaya,
belumlah mereka mencapai apa yang menjadi cita-cita atau tujuannya. Karena ketakwaannya kepada Tuhan Yang Maha
Esa, semangat mereka kunjung padam bahkan semangat mereka semakin membara untuk
melanjutkan niatnya itu. Pada suatu
waktu terlihatlah kembali cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah
Barat dan mereka mengambil keputusan kembali kearah Barat dengan menempuh jalan
dilaut Jawa dan akhirnya mereka sampai ditengah pualau Jawa dipantai Pemalang,
dimana mereka berlabuh sambil sekedar melepas lelah. Dari situlah armadanya diperintahkan kembali
ke negerinya, sedangkan Maulana Magribi
dan Haji Datuk untuk sementara bermukim ditempat itu. Dari Pemalang, kedua
Muslim tersebut menuju kearah kearah Selatan menyusuri hutan belantara tiada
mengenal bahaya yang dihadapi, karena tertarik oleh kekuatan gaib dari sinar
cahaya terang yang sekarang terlihat dari Timur Laut.
Berhubung jalur yang ditempuhnya itu meletihkan, maka
mereka berhentilah sejenak untuk melepas lelah sambil termenung merasakan kisah
perjalanan serta kewajiban yang dibebankan diatas pundaknya untuk menyebar
luaskan Agama Islam atau Firman Tuhan.
Tempat dimana mereka beristirahat dengan diliputi pikiran-pikiran dan
perasaan-perasaan yang memenuhi hati sanubari mereka (kalbunya) diberi nama PADURAKSA (bertengkar di dalam kalbu
atau rasa). Dari tempat itu mereka
melanjutkan perjalanannya keselatan lagi dan sampailah mereka dihutan belukar dan mereka beristirahat ditonggak randu yang telah tumbang, dan
sekarang dikanal dengan RANDUDONGKAL.
Dari tempat peristirahat itu cahaya terang masih kelihatan ada di Timur Laut,
dan Alim Ulama itu meneruskan perjalanan menuju arah cahaya tersebut. Melewati lereng-lereng gunung dan
lembah-lembah dan sebelum sampai ketempat yang menjadi tujuan mereka berhenti
sejenak di dekat sendang (kolam) untuk melakukan ibadah (sholat) sesudahnya,
tempat tersebut diberi nama BELIK.
Setelah melakukan sholat, maka perantauan diterukan
kearah Timur dan sampailah disuatu tempat, dimana terdapat banyak batu-batuan
dan disitu mereka beristirahat lagi sambil memikirkan bagaimana cara mereka
dapat menjangkau tempat kedudukan cahaya yang dicarinya, karena sekarang sinar
terang itu terlihat ada dipuncak gunung. Tempat dimana mereka beristirahat itu
diberi nama WATUKUMPUL. Karena
tekadnya yang membaja, bagaimanapun sulit dan bahayanya, pendakian itu
dilakukan juga sehingga akhirnya sampailah mereka ditempat yang dituju.
Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan
dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya
menjulang tinggi keantariksa.
Perlahan-lahan Syech Maulana Magribi dan temannya Haji Datuk, menuju
mendekati tempat pertapa tersebut sambil mengucap salam “ Assalamualaikum”, tetapi
tidak dijawab oleh pertapa tersebut meskipun berulang kali diucapkan. Setelah salamnya tidak mendapat jawaban, maka
Haji Datuk berkata kepada Syech Maulana Magribi “ kiranya pertapa itu adalah
seorang Budha” mendengar perkataan itu si pertapa lalu menjawab “sesungguhnya
saya ini adalah orang Budha yang sakti”, mendengar kata-kata sakti maka Syech
Maulana Magribi meminta kepada pemeluk Agama Budha tadi, bahwa beliau ingin
melihat/menyaksikan kesaktiannya.
Dan untuk membuktikan bahwa dia adalah betul-betul
orang yang sakti, maka diambilah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat
terbang diangkasa. Syech Maulana Magribi
tergolong orang yang mempunyai kesaktian juga dan didorong oleh rasa ingin
mengimbangi kemukjizatan si pertapa itu, lalu melepaskan baju kaosnya dan
dilemparkan keatas. Ternyata baju kaos
tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa yang
menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul dari kesaktian orang Budha itu.
Dalam hatinya si pertapa mengakui bahwa kesaktiannya itu dapat dikalahkan,
tetapi ia belum mau menyerah kalah, dan masih akan mempertontonkan lagi
kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit. Melihat keadaan tersebut Syech Maulana
Magribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka
dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur
itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh. Ternyata pertapa itu tidak
sanggup melakukannya.
Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukan
hal tersebut, maka Syech Maulana Magribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai
dari bawah sampai selesai tanpa ada yang
jatuh satupun. Walaupun kesaktian pertapa tadi dapat dikalahkan lagi, masih
merasa belum puas dan dengan perasaan was-was masih meneruskan perjuangannya
sekali lagi dan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai
menjulang tinggi. Seraya menyaksikan
keajaiban itu, Syech Maulana Magribi bersabda “ambilah periuk-periuk itu satu
demi satu dari bawah dengan tiada ada yang berjatuhan”. Ternyata tidak ada kesanggupan dari si
pertapa beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir dipukulnya
dengan jarinya hingga periuk itu pecah dan airnya memencar ke segala penjuru.
Akhirnya sipertapa yang mengaku bernama JAMBU KARANG (berasal dari pohon
sandarannya, sebatang pohon jambu dimana disekelilingnya terdapat batu-batuan)
menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima
oleh Syech Maulana Magribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut
dan kukunya dan selanjutnya dikubur di PENUNGKULAN
(tempat dimana si pertapa menyerah kalah). Setelah itu dilakukan upacara
penyucian dengan air zam-zam yang dibawa oleh Haji Datuk dari tanah suci atas
perintah Syech Maulana Magribi dengan mempergunakan tempat dari bamboo
(bumbung). Setelah upacara penyucian
selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetapi karena
kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah.
Air sisa tadi berhamburan dan ditempat tersebut konon
kabarnya menjadi mata air yang tidak mengenal kering dimusim kemarau. Setelah
pertapa diwisuda menjadi pemeluk Agama Islm, untuk seterusnya menggunakan nama
Syech Jambu Karang. Serenta Syech Jambu Karang akan mendapatkan wejangan
(bai’at : jawa : bengat), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok
untuk upacara bai’at ya diatas bukit KRATON.
Sesaat setelah Syech Jambu Karang
menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin rebut, mengakibatkan
pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang
menghormati Gunung Kraton, tempat dimana Syech Maulana Magribi sedang
memberikan wejangan (membai’at) Syech Jambu Karang menjadi seorang Muslim.
Menurut hikayatnya Syech Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama RUBIAH BHAKTI, yang dipersunting oleh
Syech Maulana Magribi, setelah Syech Jambu Karang menjadi seorang Muslim,
dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa. Setelah memperistri putri Syech Jambu Karang, Syech Maulana Magribi berganti
nama “ATAS ANGIN “. Dari perkawinannya
menurunkan 5 orang putera/puteri, yaitu :
1.
MAKDUM KUSEN (Makam di Rajawana)
2.
MAKDUM MEDEM (Makam di Cirebon)
3.
MAKDUM UMAR (Makam di Karimun Jawa)
4.
MAKDUM (yang menghilang/murca)
5.
MAKDUM SEKAR (Makam di Gunung Jembangan)
Adapun syech
Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan
disitu pula dan tempat pemakamannya disebut Gunung MUNGGUL (puncak yang
tertinggi didaerah itu).
Syech Maulana
Magribi yang terkenal dengan Mbah ATAS
ANGIN oleh penduduk Baturaden dan sekitarnya, selama 45 tahun bermukim
disuatu tempat/pedukuhan yang dinamakan BANJAR CAHYANA (mungkin tempat
permukiman tersebut didiami setelah menemukannya cahayanya). Di BANJAR CAHYANA
Mbah ATAS ANGIN menderita penyakit gatal-gatal yang tidak dapat disembuhkan. Dan
pada suatu waktu ia melakukan ibadahnya dan mendapat ilham supaya pergi ke
Gunung GORA dimana ia akan mendapatkan obat mujarab untuk mengobati
penyakitnya. Sesampainya ditempat yang dituju, dilihat oleh Mbah ATAS ANGIN ada
air panas yang memancar, yang sekarang tempat tersebut dikenal dengan nama PANCURAN PITU. Terjunlah Syech Maulana
Magribi kedalam air dan mandi disitu selama beberapa hari, dan akhirnya beliau
terhindar dari penyakitnya. Setelah ia kembali ketempat dimana Haji Datuk,
sahabatnya menunggu ia berkata : saksikanlah, saya sekarang telah sembuh dari
penyakit dari sakitku dan telah terhindar dari penderitaan (SLAMET). Maka oleh
karenanya gunung GORA ini saya beri (ganti) nama “GUNUNG SLAMET”. Selama Syech Maulana Magribi berobat di Pancuran
Pitu, Haji Datuk tetap dan taat menunggu ditempat yang ditunjuk semula dan
kepadanya diberi julukan RUSULADI yang artinya BATUR yang BAIK (ADI) dan konon kabarnya tempat itu oleh penduduk
sekitarnya hingga kini disebut BATURRADEN
(batur yang adi, teman yang baik).
Dari Baturraden
mereka berdua kembali ke Banjar Cahyana dan menugaskan kepada anak-anaknya
untuk meneruskan karyanya atas nama ALLAH menyebarkan agama islam, dan setelah
itu mereka pulang ke negeri asalnya dengan meninggalkan petilasan dilereng Gunung
Slamet, yang hingga kini dianggap keramat oleh orang-orang sekitar Baturraden,
daerah Purbalingga dan Banjarnegara dan tidak ketinggalan pula daerah
Pekalongan dengan suatu bukti bahwa orang-orang dari daerah tersebut pada malam
Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon berziarah ketempat tersebut dan yang lebih unik
lagi ialah setiap pengantin dari daerah Utara dengan masih berpakaian pengantin
lengkap melangsungkan pesiarnya di Baturraden.
2.
AIR
TERJUN GUMAWANG
Air terjun ini
terletak di dalam lokawisata Baturraden. Memiliki ketinggian sekitar 25 m dan
airnya sangat jernih karena aliran airnya langsung jatuh dari mata air Gunung
Slamet dan membentuk telaga kecil dibawahnya. Banyak anak-anak disekitar
Baturraden melakukan atraksi terjun/lompat dari puncak air terjun dan menyelam
untuk mengambil uang logam yang dilempar kedalam air oleh pengunjung atau uang
setelah melakukan atraksi terjun.
3.
SUMBER
AIR PANAS PANCURAN TUJUH
Lokasi obyek
wisata ini terletak ditengah hutan dammar dan pinus yang berjarak sekitar 2,5
Km arah Barat lokawisata Baturraden yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki
atau kendaraan dengan jarak tempuh sekitar 5 Km dari pintu gerbang Wana Wisata.
Sesuai dengan
namanya disebut pancuran tujuh atau dalam bahasa Jawa disebut pancuran pitu
karena mempunyai tujuh buah pancuran yang alami mengalir langsung dari Gunung
Slamet. Sumber air panas ini mengandung belerang bersuhu antara 70ᴼ–
90ᴼ
celcius serta mengandung beberapa unsur mineral. Karena kandungan belerangnya,
maka sangat efektif untuk therapy pengobatan sakit tulang/rematik dan berbagai
macam penyakit kulit.
4.
PEMANDIAN
AIR MINERAL KALIBACIN
Kolam renang
Kalibacin dialiri dari sumber air yang mengandung belerang yang dapat mengobati
berbagai macam penyakit kulit dan rheumatic. Terletak di Kecamatan Rawalo atau
30 menit arah Selatan Purwokerto.