PAKET WISATA YOGYAKARTA
1. CANDI
PRAMBANAN
Candi prambanan atau candi Rara
Jograng adalah kompleks cand hindu terbesar di Indonesia yang dibangun pada
abad 19 masehi. Candi ini dipersembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama Hindu
yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, wishnu sebagai dewa pemelihara, dan siwa
sebagai dewa pemusnah. Berdasarkan prasasti Siwargha nama asli kompleks candi
ini adalah Siwargha (bahasa sansekerta yang bermakna : ‘Rumah Siwa’), an memang
di garbagriha (ruang utama) candi ini bersemayam arca Siwa Mahadewa setinggi 3
meter yang menunjukkan bahwa candi ini dewa Siwalebih diutamakan. Candi ini
terletak di desa Prambanan,pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta,
40km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang,persis diperbatasan antara
provinsi Jawa Tengah dan daerah istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang
terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan
Klaten
Candi ini adalah termasuk Situs
Warisan dunia UNESCO, candi Hindu terbesar di Indonesia , sekaligus salah satu
candi teridah di Asia Tenggara. Arsitektur bangunan ini berbentuk tinggi dan
ramping sesuai dengan arsitektur Hindu pada umumnya dengan candi Siwa sebagai
candi utama memiliki ketinggian mencapai 47 meter menjulangdi tengah komplek
gugusan candi-candi yang kecil. Sebagai
salah satu candi termegah di Asia Tenggara, candi Prambananmenjadi daya tarik
kunjungan wisatawan dari seluruh dunia. Menurut prasasti Siwagrha, candi ini
mulai dibangun pada sekitar tahun 850 masehi oleh Rakai Pikatan, dan terus
dikembangkan dan diperluas oleh Balitung Maha Sambu, dimasa kejayaan Medang
Mataram.
v
Terletak
di jalan raya Yogya-Solo km. 16 Yogyakarta Indonesia
2. CANDI
BOROBUDUR
Borobudur dibangun sekitar tahun 800
masehi atau abad ke -9. Candi Borobudur dibangun oleh para penganut agama Budha
Mahayana pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Candi ini dibangun pada masa
kejayaan dinasti Syailendra. Pendiri candi Borobudur yaitu raja Samaratungga yang berasal dari wangsa
atau dinasti Syailendra. Kemungkinan candi ini dibangun sekitar tahun 824 M dan
selesai sekitar menjelang tahun 900-an Masehi pada masa pemerintahan raja Pramudawardhani yang adalah putri dari
Samaratungga. Sedangkan arsitek yang berjasa membangun candi ini menurut kisah
turun temurun bernama Gunadharma.
Kata Borobudur sendiri berdasarkan
bukti tertulis pertama yang ditulis oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur
Jendral Britania Raya di Jawa, yang memberi nama candi ini. Tidak ada bukti
tertulis yang lebih tua yang memberi nama Borobudur pada candi ini.
Satu-satunya dokumen tertua yang menunjukan keberadaan candi ini adalah kitab
Nagarakertagama, yang ditulis oleh mpu Prapanca pada tahun 1365. Di kitab
tersebut tertulis bahwa candi ini digunakan sebagai tempat meditasi penganut
Budha.
Arti nama Borobudur yaitu “biara di
perbukitan” yang berasal dari kata “bara”
(candi atau biara) dan “beduhur”(perbukitan
atau tempat tinggi) dalam bahasa Sansekerta. Karena itu, sesuai dengan arti
nama Borobudur, maka tempat ini sejak dahulu digunakan sebagai tempat ibadat
penganut Budha.
Candi ini selama berabad-abad tidak
lagi digunakan. Kemudian karena letusan gunung merapi, sebagian besar bangunan
candi Borobudur tertutup tanah Vulkanik. Selain itu, bangunan juga tertutup
berbagai pepohonan dan semak belukar selama berabad-abad. Kemudian bangunan
candi ini mulai terlupakan pada zaman Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke
-15.
Pada tahun 1814 saat Inggris menduduki
Indonesia, Sir Thomas Stamford Raffles mendengar adanya penemuan benda
purbakala berukuran raksasa di desa
Bumisegoro daerah Magelang. Karena minatnya yang besar terhadap sejarah
jawa, maka Raffles segera memerintahkan H.C. Cornelius, seorang insinyur
Belanda, untuk menyelidiki lokasi penemuan yang saat itu berupa bukit yang
dipenuhi semak belukar.
Cornelius dibantu oleh sekitar 200
pria menebang pepohonan dan menyingkirkan semak belukar yang menutupi bangunan
raksasa tersebut. Karena mempertimbangkan bangunan yang sudah rapuh dan bisa
runtuh, maka Cornelius melaporkan kepada Raflles penemuan tersebut termasuk
beberapa gambar. Karena di ini terus dipugar pada masa penjajahan Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, pada tahun
1956 pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO untuk meneliti kerusakan
Borobudur. Lalu pada tahun 1963, keluar keputusan resmi pemerintah Indonesia
untuk melakukan pemugaran candi Borobudur dengan bantuan dari UNESCO. Namun
pemugaran ini baru benar-benar dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1973. Proses
pemugaran baru selesai pada tahun 1984. Sejak tahun 1991, candi Borobudur
ditetapkan sebagai World Heritage Site atau
Warisan Dunia oleh UNESCO.
Candi Borobudur terletak di Magelang,
Jawa Tengah, sekitar 40 Km dari Yogyakarta. Candi Borobudur memiliki 10 tingkat
yang terdiri dari 6 tingkat berbentuk bujur sangkar, 3 tingkat berbentuk bundar
melingkar dan sebuah stupa. Seluruhnya terdapat 72 stupa selain stupa utama. Di
setiap stupa terdapat Buddha. Sepuluh tingkat menggambarkan filsafat Buddha
yaitu 10 tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan
menjadi budha di nirwana. Kesempurnaan ini dilambangkan oleh stpa utama
ditingkat paling atas. Struktur Borobudur bila dilihat dari atas membentuk
struktur mandala yang menggambarkan kosmologi Buddha dan cara berpikir manusia.
Di keempat sisi candi terdapat pintu
gerbang dan tangga ke tingkat di atasnya seperti sebuah piramida. Hal ini
menggambarkan filosofi Buddha yaitu semua kehidupan berasal dari bebatuan. Batu
kemudian menjadi pasir, lalu menjadi tumbuhan, lalu menjadi serangga, kemudian
menjadi binatang liar, lalu binatang peliharaan, dan terakhir menjadi manusia.
Proses ini disebut sebagai reinkarnasi. Proses terakhir adalah menjadi jiwa dan
akhirnya masuk ke nirwana. Setiap tahapan pencerahan pada proses kehidupan ini
berdasarkan filosofi Buddha digambarkan pada relief dan patung pada seluruh
candi Borobudur.
Bangunan raksasa ini hanya berupa
tumpukan balok batu raksasa yang memiliki ketinggian total 42 m. setiap batu
disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu hanya disambung
berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagian dasar candi Borobudur berukuran sekitar 118 m pada setiap
sisi. Batu-batu yang digunakan kira-kira sebanyak 55.000 m³. semua batu
tersebut diambil dari sungai di sekitar candi Borobudur. Batu-batu ini dipotong
lalu diangkut dan disambung dengan pola seperti permainan lego. Semuanya tanpa
menggunakan perekat atau semen.
Sedangkan relief mulai dibuat setelah
batu-batuan tersebut selesai ditumpuk dan disambung. Relief terdapat pada dinding candi. candi Borobudur
memiliki 2670 relief yang berbeda. Relief ini dibaca searah putaran jarum jam.
Relief ini menggambarkan suatu cerita yang cara membacanya dimulai dan diakhiri
pada pintu gerbang disebelah timur. Hal ini menunjukkan bahwa pintu gerbang
utama candi Borobudur menghadap timur seperti umumnya candi Buddha lainnya.
3. KERATON JOGYAKARTA
Keistimewaan Jogjakarta dalam
Balutan Kekayaan Tradisi dan Filosofi Hidup
Sejarah
Asal mula
Kasultanan Jogjakarta diawali ketika pada tahun 1558 M Ki Ageng Pamanahan
mendapatkan hadiah sebuah wilayah di Mataram dari Sultan Pajang karena jasanya
telah mengalahkan Aryo Penangsang. Pada tahun 1577, Ki Ageng Pemanahan
yang tetap selalu setia pada Sultan Pajang sampai akhir hayatnya, membangun
istananya di Kotagede. Penggantinya, Sutawijaya, anak Ki Ageng Pemanahan,
berbeda dengan ayahandanya. Sutawijaya menolak tunduk pada Sultan Pajang dan
ingin memiliki daerah kekuasaan sendiri bahkan menguasai Jawa.
Setelah
memenangkan pertempuran dengan Kerajaan Pajang, pada tahun 1588, Mataram
menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan yang bergelar Panembahan
Senopati. Kerajaan Mataram mengalami perkembangan pesat pada masa kekuasaan
Sultan generasi keempat, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Setelah Sultan Agung
wafat dan digantikan putranya, Amangkurat I, Kerajaan Mataram mengalami konflik
internal/konflik keluarga yang dimanfaatkan oleh VOC hingga berakhir dengan
Perjanjian Giyanti pada bulan Februari 1755 yang membagi Kerajaan Mataram
menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Dalam perjanjian
tersebut, dinyatakan Pangeran Mangkubumi menjadi sultan Kasultanan Jogjakarta
dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwana I. Sejak tahun 1988 hingga sekarang,
Kasultanan Jogjakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwana X.
Keraton
Jogjakarta mulai didirikan oleh Sultan Hamengku Buwono I beberapa bulan pasca
Perjanjian Giyanti. Lokasi keraton konon adalah bekas sebuah pesanggarahan yang
bernama Garjitawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan
jenazah raja-raja Mataram yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi lain
menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mata air, Umbul Pacethokan, yang
ada di tengah hutan Beringan. Sebelum menempati Keraton Jogjakarta, Sultan
Hamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang yang sekarang termasuk
wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Lokasi Keraton Jogjakarta berada
di antara Sungai Code di sebelah timur dan Sungai Winongo di sebelah barat
serta Panggung Krapyak di sebelah selatan dan Tugu Jogja di sebelah utara.
Lokasi ini juga berada dalam satu garis imajiner Laut Selatan dan Gunung
Merapi.
Keistimewaan
Kata
keraton berasal dari kata ka-ratu-an, yang berarti tempat tinggal ratu/raja.
Secara fisik istana para Sultan Yogyakarta ini memiliki tujuh kompleks inti
yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Utara), Kamandhungan Ler (Kamandhungan
Utara), Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul (Kamandhungan
Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balairung Selatan). Secara garis besar
wilayah keraton memanjang 5 km ke arah selatan hingga Panggung Krapyak dan 2 km
ke utara berakhir di Tugu. Pada garis ini terdapat garis linier dualisme
terbalik. Bisa dibaca secara simbolik filosofis bahwa dari Panggung Krapyak
menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton) menunjukkan "sangkan",
yaitu asal mula penciptaan manusia sampai manusia tersebut dewasa. Ini dapat
dilihat dari kampung di sekitar Panggung Krapyak yang diberi nama kampung Mijen
(berasal dari kata "wiji" yang berarti benih). Di sepanjang
jalan D.I. Panjaitan ditanami pohon asam dan pohon tanjung yang melambangkan masa
anak-anak menuju remaja. Dari Tugu menuju ke Keraton (Kompleks Kedhaton)
menunjukkan "paran" tujuan akhir manusia yaitu menghadap penciptanya.
Tujuh gerbang dari Gladhag sampai Donopratopo melambangkan tujuh
langkah/gerbang menuju surga (seven steps to heaven). Sedangkan dari
Keraton menuju Tugu juga diartikan sebagai jalan hidup yang penuh godaan. Pasar
Beringharjo melambangkan godaan wanita, sedangkan godaan akan kekuasaan
dilambangkan lewat Gedung Kepatihan. Keduanya terletak di sebelah kanan. Jalan lurus
itu sendiri sebagai lambang manusia yang dekat dengan Pencipta (Sankan
Paraning Dumadi). Secara sederhana, Tugu adalah perlambangan Lingga
(laki-laki) dan Panggung Krapyak perlambangan Yoni (perempuan). Sedangkan
Keraton sebagai jasmani yang berasal dari keduanya.
Tugu
dan Bangsal Manguntur Tangkil atau Bangsal Kencana (tempat singgasana raja),
terletak dalam garis lurus. Hal ini mengandung arti, ketika Sultan duduk di
singgasananya dan memandang ke arah Tugu, maka beliau akan selalu mengingat
rakyatnya (manunggaling kawula gusti). Tatanan Keraton sama seperti
Keraton Dinasti Mataram pada umumnya. Bangsal Kencana yang menjadi tempat raja
memerintah –menyatu dengan Bangsal Prabayeksa sebagai tempat menyimpan
senjata-senjata pusaka Keraton (di ruangan ini terdapat lampu minyak Kyai Wiji,
yang selalu dijaga abdi dalem agar tidak padam)— berfungsi sebagai pusat.
Bangsal tersebut dilingkupi oleh pelataran Kedhaton, sehingga untuk mencapai
pusat, harus melewati halaman yang berlapis-lapis menyerupai rangkaian bewa
(ombak) di atas lautan. Tatanan spasial Keraton ini sangat mirip dengan
konstelasi gunung dan dataran Jambu Dwipa, yang dipandang sebagai benua
pusatnya jagad raya.
Bangunan-bangunan
Keraton Yogyakarta lebih terlihat bergaya arsitektur Jawa tradisional. Di
beberapa bagian tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti Portugis,
Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kompleks biasanya berkonstruksi Joglo
atau turunan konstruksinya. Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari
halaman yang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangunan utama serta
pendamping, dan kadang ditanami pohon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain
dipisahkan oleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan dengan Regol yang
biasanya bergaya Semar Tinandu. Daun pintu terbuat dari kayu jati yang tebal.
Di belakang atau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dinding penyekat yang
disebut Renteng atau Baturono. Pada regol tertentu penyekat ini terdapat
ornamen yang khas.
Keraton
diapit dua alun-alun yaitu Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan. Masing-masing
alun-alun berukuran kurang lebih 100×100 meter. Sedangkan secara keseluruhan
Keraton Yogyakarta berdiri di atas tanah seluas 1,5 km persegi. Bangunan inti
keraton dibentengi dengan tembok ganda setinggi 3,5 meter berbentuk bujur
sangkar (1.000 x 1.000 meter). Sehingga untuk memasukinya harus melewati pintu
gerbang lengkung yang disebut plengkung. Ada lima pintu gerbang plengkung (dua
di antaranya masih masih bisa kita saksikan hingga kini) yaitu Plengkung
Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut, Plengkung Jogosuro
atau Plengkung Ngasem di sebelah barat daya, Plengkung Joyoboyo atau Plengkung
Tamansari di sebelah barat, Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah
selatan, dan Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan di sebelah timur.
Di dalam benteng, khususnya yang berada di sebelah selatan dilengkapi jalan
kecil yang berfungsi untuk mobilisasi prajurit dan persenjataan. Sedangkan
sebagai pertahanan, pada keempat sudut benteng dibuat bastion (tiga di
antaranya masih bisa kita saksikan hingga kini) yang dilengkapi dengan lubang
kecil yang berfungsi untuk mengintai musuh.
Di
dalam bangunan benteng, selain ada bangunan keraton tempat tinggal Raja, di
sekitarnya juga ada sejumlah kampung sebagai tempat bermukim penduduk, yang
pada zaman dulu merupakan abdi dalem keraton, namun pada perkembangan
berikutnya, hingga sekarang, orang yang tinggal di dalam benteng keraton tidak
harus sebagai abdi dalem. Nama-nama kampung di dalam "njeron beteng"
(wilayah dalam benteng) mempunyai sejarahnya sendiri dan masing-masing berbeda.
Sebagai contoh gamelan, dahulu merupakan tempat tinggal para abdi dalem yang
bekerja sebagai gamel (pemelihara kuda), siliran (pemelihara
lampu/alat penerangan), nagan (niyagan/penabuh gamelan), matrigawen
(penjaga keamanan lingkungan keraton), patehan (pembuat dan penyedia teh), kenekan
(dari kata Bahasa Belanda knecht/pembantu, untuk menyebut para abdi dalem yang
membantu kusir/sais kereta kuda), Langenastran (tempat tinggal kesatuan
prajurit Langen Astra yang bertugas sebagai pengawal Sultan), Suryaputran (tempat
tinggal Pangeran Suryaputra, putra Sultan Hamengku Buwana VIII), Kauman
(tempat tinggal para Kaum/pemimpit umat Islam), rotowijayan (tempat menyimpan
dan memelihara kereta kuda milik keraton), tamansari (tempat tinggal para istri
dan puteri raja yang belum menikah), dan seterusnya.
Lokasi dan Fasilitas
Kompleks
Keraton Sultan Jogjakarta terletak di pusat kota Jogjakarta, tepatnya persis di
sebelah selatan titik km. 0 Kota Jogjakarta. Dari Tugu Jogjakarta, kita tinggal
berjalan lurus ke selatan, melewati Jalan Malioboro hingga memasuki gerbang
utara Keraton di Alun-Alun Utara Jogjakarta. Karena terletak di pusat kota
Jogjakarta, fasilitas dan akomodasi di sekitar kompleks Keraton Sultan
Jogjakarta sangatlah lengkap. Selain segala jenis hotel, dari mulai hotel
berbintang hingga hotel melati, dan segala jenis restoran/tempat makan, dari
mulai restoran mewah hingga angkringan (warung makan kaki lima khas
Jogjakarta), kita juga bisa memanjakan hasrat belanja kita dengan segala macam
cinderamata, pakaian, kerajinan, dan makanan khas Jogjakarta di sepanjang Jalan
Malioboro, di Pasar Beringharjo, maupun di toko-toko di sekitar kompleks
keraton. Semuanya tidak terlalu jauh dari keraton dan bisa ditempuh dengan
jalan kaki atau naik becak maupun andong (sejenis kereta kuda). Begitu pula
dengan sarana transportasi dan komunikasi, semuanya dapat kita peroleh dengan
mudah. Kawasan wisata Keraton Sultan Jogjakarta ini buka setiap hari Senin
hingga Minggu, jam 08.00 s.d. 13.30, kecuali hari Jumat jam 08.00 s.d. 11.30.
Harga tiket masuk bagi turis lokal Rp. 5.000, -, sedangkan untuk turis asing
Rp. 10.000, - .